Berlibur ke Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta

Suasana Gembira Loka pagi itu masih belum ramai, di tempat parkir motor masih sedikit motor yang berjajar rapi. Di kebun binatang ini kita bisa menyaksikan koleksi binatang dan pertunjukan satwa terampil.

Malioboro, Candi Prambanan Sampai ke Air Terjun Sri Gethok

Jalan-jalan ke Jogja, menikmati sepinya pagi dan ramainya malam di Malioboro. Berwisata sejarah ke Candi Prambanan dan tersesat sampai ke air terjun Sri Gethok di Kabupaten Gunung Kidul

Rambut Monte Sebuah Candi dan Telaga dengan Ikan Dewa

Dari Candi Rambu Monte terlihat sebuah telaga atau orang sering menyebutnya 'sendang'. Beranjak ke bawah kita akan menemui sebuah mata air yang membentuk seperti kolam yang luas.

Melihat Anak Gunung Kelud dan Menikmati Air Panasnya

Praktis sejak Gunung Kelud meletus pada November 2007, danau kawah itu 'menghilang' dengan munculnya kubah lava yang besar dari kawah itu. Kita dapat pula menikmati air panas Gunung Kelud.

Berbagi Ilmu dengan Mereka yang Dipinggirkan

Sebagai seorang pemuda, memang seharusnya begitu, menjaga idealismenya. Kesempatan kapan lagi bisa lebih bermanfaat dan memberikan sumbangsih untuk Indonesia. Aksi untuk Indonesiaku.

19 Maret 2014

Berlibur ke Kebun Binatang Gembira Loka Yogyakarta

Minggu 9 Maret 2014 kita berkunjung ke kebun binatang Gembira Loka Yogyakarta. Hari itu cuaca Yogyakarta bias dibilang panas, sama seperti di daerah lain yang memasuki peralihan musim. Di rumah kontrakan yang di daerah Bantul, sehari sebelumnya kita cari lokasi kebun binatang itu melalui Google Maps, maklum sebagai pendatang belum mengetahui banyak jalan di Kota yang memiliki semboyan “Berhati Nyaman” ini.

Dari Jalan Imogiri Timur KM 6 ternyata kebun binatang Gembira Loka tidak terlalu jauh, dalam Maps tertulis sekitar 5 kilometer. Pagi itu, setelah menyantap sarapan pagi dengan menu sayur sop dengan lauk Tempe kita persiapkan diri untuk menikmati hari Minggu dengan berlibur ke Gembira Loka. Dengan mengendarai Mio yang baru diservice dan diganti joknya, perjalanan dari kontrakan ke kebun binatang tidak terasa melelahkan.

Suasana Gembira Loka pagi itu masih belum ramai, di tempat parkir motor masih sedikit motor yang berjajar rapi, kita tiba sekitar pukul 08:30. Untuk memasuki kebun binatang yang telah digagas sejak tahun 1933 ini kita dikenai tarif Rp30.000/orang itu sudah termasuk tiket naik Kapal Katamaran.

Memberi makan rusa
Melihat pertunjuan satwa terampil
Uups, mereka sedang apa ya?
Naik kapal Katamaran

Kebun binatang Gembira Loka ini sangat luas, untuk mengelilinginya dengan berjalan kaki dari pintu masuk sampai keluar pasti capek, apalagi jalannya kadang naik turun. Makanya di setiap titik kita melihat-lihat binatang yang ada sambil berisitirahat. Tetapi jangan khawatir, di sini juga ada Taring (transportasi keliling yang berhenti di beberapa halte. Jadi kalau capek dan ingin melihat isi kebun binatang dari jauh bisa naik Taring.

Koleksi binatangnya tertata dengan rapi tetapi memang tidak begitu banyak, mulai dari orang utan, sinpase, buaya, kuda nil, kanguru, harimau, aneka ikan, burung, kura-kura, dan binatang reptil serta amfibi dan sebagainya. Pada jam-jam tertentu di kebun binatang yang tengah-tengahnya dibuat danau buatan ini, kita bisa menyaksikan pertunjukan satwa terampil, atraksi gajah, dan feeding time. Selain itu ada berbagai wahana, seperti; kapal katamara, perahu senggol, banana orca, dan perahu kayuh.

4 Desember 2013

Malioboro, Candi Prambanan Sampai ke Air Terjun Sri Gethok

Minggu kemarin, perjalanan yang sudah lama direncanakan akhirnya tercapai juga. Berniat untuk menjenguk istri yang sedang melanjutkan kuliahnya di UGM. Memesan tiket kereta Malioboro Ekspres seminggu sebelumnya, jum'at siang (22/11/13) perjalanan ke Jogja pun dimulai. Setidaknya membutuhkan waktu lima jama dari stasiun Blitar Kota untuk sampai di stasiun Tugu Jogja dengan kereta yang hanya berhenti di stasiun-stasiun besar ini. Perjalanan naik kereta sekarang lebih tertib, bersih, dan nyaman, tidak seperti dulu penuh sesak, berseliweran pedangang asongan.

Berbeda dengan rencana awal, ternyata ibu kosnya tidak memperbolehkan untuk membawa orang lain untuk menginap, walau itu suaminya sendiri. Padahal dulu katanya boleh. Akhirnya, perjalanan ke Jogja ini jadi seperti wisata ala backpacker, seperti yang dibayangkan saat menunggu kereta di stasiun. Jam menunjukan pukul 15.20 sampai saya di stasiun Tugu dijemput istri dengan motornya dan berlanjut dengan keliling mencari penginapan. Mau bagaimana lagi coba, saya sudah terlanjur memesan tiket pulang hari minggu malam. Berniat lebih lama di Jogja agar bisa melepas rindu dan tentu jalan-jalan menikmati tempat wisata di Jogja. Akhirnya ketemu juga penginapan yang lumayan murah di salah satu gang di jalan Malioboro.

Penginapan kita tidak jauh dari Malioboro yang merupakan ikon Jogja, jadinya tiap malam bisa jalan-jalan di sepanjang jalan Malioboro. Malam itu malam sabtu dan malam minggu, jadi bisa dibayangkan ramainya, cuma sekedar jalan-jalan melihat keramaian orang jualan dan orang-orang yang sedang belanja. Bukan hanya itu, pagi sudah jalan-jalan sambil menikmati kuliner pagi yang ada di Malioboro, seperti gudeg. Barang-barang yang dijual di sini lumayan murah, malam terakhir sempat membeli oleh-oleh di sini, bakpia patok dan kaos untuk keponakan.

Hari pertama, tempat wisata yang akan kita kunjungi adalah yang lokasinya lumayan jauh. Pagi-pagi setelah sarapan gudeg mulailah perjalanan ke candi hindu terbesar, Candi Prambanan. Dengan adanya motor sangat membantu, kita bisa ke lokasi dengan mudah. Tidak ada satu jam sampailah di komplek Candi Prambanan. Tiket masuk Rp 30.000 per orang. Ini adalah kunjungan pertama kita ke Candi Prambanan yang dikenal juga dengan Candi Roro Jongrang. Karena hari itu akhir pekan, pengujungnya lumayan banyak. Cukup lama di sini, sekitar tiga jam. Menikmati peninggalan mahakarya pada jamannya. Setelah dirasa sudah cukup puas, menjelang siang kita tinggalkan Candi Prambanan.



Terbesit dalam pikiran kita, sudah sampai Solo masak kita cuma ke Prambanan saja, kan di sini banyak tempat wisata di Jogja. DI parkiran, bertanyalah kita ke ibu penjaga. "Tempat wisata di dekat sini apa ya bu yang bisa kita kunjungi? Kurang lebih seperti itulah pertanyaannya. Di tunjukkanlah Pantai di Wonosari, katanya tidak terlalu jauh setelah pegunungan kita bisa menemukan banyak pantai.

Akhirnya, siang itu saya pacu motor untuk menuju ke Wonosari, sampai dirasa sudah jauh belum juga menemukan tanda-tanda mengarah ke Pantai. Terus saja menyusuri jalan naik turun sampai masuk Kabupaten Gunung Kidul. Berhenti di salah satu SPBU, sholat dan mengisi bensin, ternyata untuk menuju Pantai yang diinginkan masih 45 km lagi. Padahal sebelumnya sudah jalan satu jam lebih. Kalau dipaksakan, bisa pulang malam. Saya putuskan saja balik. "Kita ke air terjun Sri Gethok saja, yang tadi penunjuk arahnya kita lewati" ajak istri. Setelah kembali tidak cukup jauh, di pertingaan kita belok menuju tempat wisata Air Terjun Sri Gethok.

Tempatnya masih belum begitu ramai yaitu di pedesaan, jalannya saja ada yang belum diaspal. Air terjun ini ada di daerah Gunung Kidul. Untuk menuju ke air terjunnya bisa jalan kaki atau naik perahu. Bagi yang tidak mau keluar uang, sudah dibuatkan jalannya. Waktu itu kita jalan kaki, tidak terlalu jauh sih dari tempat parkir, tapi jalannya khas pegunungan, menurun dan saat pulang naik. Tempat ini ramai dengan muda-mudi, anak kuliahan yang mencari hiburan. Air terjunnya tidak terlalu tinggi, sekitar 10an meter. Sore akhirnya kita pulang, sampai penginapan menjelang maghrib.

1 Desember 2013

Pindah Hosting dan Mulai Nge-blog Lagi


Ini adalah tulisan pertama setelah hampir 7 bulan tidak nge-blog. Sebenarnya bukan murni tidak nge-blog, khususnya untuk domain blog ini yang merupakan blog personal. Hari-hari masih dekat dengan dunia blog dan sosial media, tetapi waktu online lebih banyak untuk mengurusi sebuah blog yang bisa dikatakan ingin dibuat lebih profesional dan bisa dijadikan penghasilan tambahan.

Untuk posting hal-hal personal masih tetap dilakukan, di http://kurniasepta.tumblr.com, sebuah blog dengan konsep mobile photo blogging. Nge-blog lewat smartphone dengan konten yang ringan-ringan saja. Saat ini memang semakin mudah untuk nge-blog lewat mobile, walau mungkin juga banyak keterbatasannya. Untuk menulis lebih panjang, saya hidupkan kembalilah semangat nge-blog di kurniasepta.com

Mulai hari ini, hosting blog ini sudah berpindah dari hosting sendiri ke blogspot dengan domain sendiri. Alasannya sejak awal untuk nge-blog sudah akrab dengan produk google ini, untuk mempermudah dalam mengelolanya dijadikan satu dasbor saja dengan blog-blog lainnya. Sekarang total ada tiga blog di dasbor blogger.com. Saya berharap dengan satu tempat ini akan bisa lebih konsisten mengupdate blog personal ini.

Dengan berpindahnya hosting ini, post-post terdahulu yang sudah dibackup belum bisa diimport ke blog ini lagi. Untuk sementara biarlah kembali seperti memulai kembali nge-blog. Dengan lama tidak menulis dari pengalaman atau pemikirian diri sendiri membuat kaku untuk nge-blog lagi. Karena nge-blog adalah soal kreativitas dan mengarsipkan diri sendiri maka nge-blog harus segera dimulai kembali.

30 Mei 2013

Dibeli Yahoo! Akankah Tumblr Bernasib Sama Seperti Koprol?

 Akankah Tumblr Bernasib Sama Seperti Koprol?

Lama sekali saya tidak menulis di blog ini, lebih tepatnya tulisan terakhir di blog ini adalah sebulan yang lalu. Saya lebih asyik mengelola blog sebelah dan sosial medianya, jadinya blog personalnya nggak keurus.  Dengan lamanya tidak menulis di blog sendiri, saya seperti blogger baru, yang bingung mau menulis apa, dan akhirnya malah curhat seperti pembukaan postingan ini :lol:

Awal bulan April 2013 kemarin saya mengumumkan kepindahan photoblog saya dari Posterous ke Tumblr. Karena posterous sebagian besar SDM-nya sudah ditarik oleh Twitter yang telah dibelinya, menyebabkan platform blogging yang dikenal kemudahan dalam memposting ini pun harus ditutup. Saya memutuskan untuk berpindah ke Tumblr, karena kemudahannya juga, dan platform ini juga cocok untuk photoblog.

Bulan ini berita besarnya di kanal internet (sosial media) adalah pembelian Tumblr oleh Yahoo! Dengan harga Rp 10,7  triliun Yahoo! berhasil mendapatkan layanan blogging Tumblr. Tentunya dengan pembelian ini disikapi beragam oleh penggunannya. Sebuah berita yang saya baca menyebutkan setelah berita pembelian ini beredar, banyak pengguna Tumblr yang memindahkan blognya ke Wordpress.

Masih belum hilang dari ingatan saya, ketika Yahoo! membeli Koprol, dan tidak bertahan lama Yahoo! malah menutup layanan mikroblogging milik anak bangsa itu. Tentu ini juga menjadi salah satu alasannya banyak pengguna yang ingin berpindah, karena takut nantinya juga akan ditutup. Ingat dengan Multiply? sebelum dibeli dan menjadi market place Multiply adalah layanan blogging yang populer, saat ini pun juga ditutup.

Tumblr sendiri sebagai paltform blogging yang tumbuh dengan signifikan, setidaknya sebanyak 900 posting dilakukan penggunanya dalam setiap detik. Tumblr dikunjungi lebih dari 300 juta unique visitor tiap bulannya dengan angka sign-up mencapai 120.000 per hari. Saya pun mulai betah di Tumblr untuk berbagi foto, dengan aplikasinya di smartphone saya bisa memposting foto seperti yang sebelumnya saya lakukan di Posterous.

Sebagai pengguna saya menginginkan Tumblr tetap seperti sekarang ini, tidak banyak perubahan. Tetapi dengan pemilik yang baru, apa pun bisa terjadi, yaitu bagaimana pemilik baru (Yahoo!) bisa mendatangkan keuntungan dari pembelian mahalnya. Bagaimana cara mendapat pemasukan itulah yang menjadi permasalahan, memaksakan iklan di blog akan membuat pengguna lari. Saat ini Tumblr hanya menaruh iklan di halaman dasbor penggunanya.

David Karp, pendiri dan CEO Tumblr di blognya menulis, kalau tidak akan merubah Tumblr. Pemuda 26 tahun yang pernah drop out saat SMA dan sekarang menjadi orang kaya baru itu mengatakan tidak akan merubah Tumblr menjadi warna unggu seperti warna Yahoo!. Saya sendiri masih belum ingin berpindah, karena baru saya datang di Tumblr. Nantinya jika memang sudah banyak perubahan dan semakin tidak nyaman bisa saja berpindah. Kita tunggu saja, apakah Tumblr mampu memberikan nilai lebih untuk Yahoo! ataukah malah bernasib sama seperti Koprol?

17 April 2013

Kuliner dan Barang Tempo Dulu di Blitar Djadoel Jilid 3


Tahun ini Blitar Djadoel memasuki tahun ketiga, sejak dimulai tahun 2011 yang lalu. Acara yang diselenggarakan dalam memeriahkan hari jadi Kota Blitar ke-107 ini berlangsung mulai tanggal 9-13 April 2013. Tiga tahun yang lalu, atau pertama kali Blitar Djadoel digelar, sempat juga saya bersama teman-teman sepulung kuliah waktu itu, berjalan-jalan menikmati sore di Blitar Djadoel. Sebuah bazar yang diikuti oleh dinas-dinas di bawah pemerintah Kota Blitar dan juga swasta. Di Blitar Djadoel menjual dan mempertunjukkan makan-makanan tempo dulu dan barang-barang kuno.

Untuk Blitar Djadoel Jilid 3 ini, terasa lebih ramai dibanding sebelumnya. Sepanjang jalan Merdeka Timur, yaitu barat Alon-alon sampai Toko Ijo, berjajar 2 deret stan-stan unik dengan pernak-pernik jadulnya. Sepanjang perjalanan kita bisa menemui kuliner jadul yang dikenal oleh orang-orang Blitar, mulai dari pecel, thiwul, ampok, capar punten, lepet, gatot, kicak, cenil, gulali bahkan kerak telur dari betawi pun ada. Dan untuk minuman ada ice drop, legen, dawet, pleret dan masih banyak kuliner-kuliner tempo dulu yang mungkin saat ini mulai sulit ditemui.

Selain makanan, ada juga barang-barang tempo dulu, seperti motor, mobil, laptop, tv, dan foto-foto yang memperlihatkan Kota Blitar pada tempo dulu. Memasuki gerbang Blitar Djadoel kesan kuno, zaman-zaman perjuangan atau menjelang kemerdekaan begitu terasa. Setiap penjaga stan memakai pakaian-pakain jadul. Ada juga pertunjukan kesenian yang membuat suasana menjadi tambah meriah. Untuk melihat suasana Blitar Djadoel jilid 3, lihat saja foto-foto yang berhasil saya dapatkan, agar kamu juga merasakan kesannya datang ke bazar tahunan ini.


Tahun ini sudah lulus kuliah, tidak lagi jalan-jalan di Blitar Djadoel bersama teman-teman lagi. Walau sempat janjian untuk melihat bareng-bareng tetapi lagi sudah sulit diwujudkan. Selain di sisi barat, di timur kantor wali kota juga ada pameran, tetapi lebih pada pengenalan produk usaha. Kabarnya pada malam penutupan Blitar Djadoel dimeriahkan dengan kempang api selama 30 menit. Hari itu ketika saya melihat adalah hari terakhir dan menjelang sore sudah ramai pengunjung.

Yang berbeda kali ini adalah, saya temui banyak sekali penjual Kerak Telor, jajanan khas Jakarta. Apakah memang penjual-penjual ini selalu bermigrasi ke bazar-bazar. Campur aduknya antara penjual makanan atau penjual barang-barang yang tidak dalam format jadul menjadikannya kurang nyaman. Kesannya ada yang jadul ada yang modern. Serta barang-barang yang dipamerkan masih belum terlalu banyak, dan harusnya bisa lebih unik dan jadul lagi.

Pernahkah kamu ke Blitar? Yang terkenal di sini adalah Makam Bung Karno-nya, sebagai presiden pertama dan proklamator yang kharismatik ini, saya yakin masih banyak pengagumnya. Kalau ada kesempatan mampirlah ke kota kecil ini, untuk menikmati pecel atau es pleretnya. Melihat detak jantung lukisan Bung Karno di musiumnya yang ada di kompleks makamnya. Atau, berkunjung ke Candi Penataran, sebagai candi terbesar di Jawa Timur sebagai peninggalan Majapahit.