Jalan-jalan Bareng Istri ke Candi Borobudur


Candi Borobudur beberapa hari yang lalu sempat ramai dibicarakan, itu karena Mark Zuckerberg diam-diam mengunjunginya. Si pemilik Facebook itu muncul pertama kali di Indonesia di Candi Borobudur, menikmati matahari pagi. Nah, ini membuat saya membuka kembali file foto saat berkunjung ke Borobudur yang belum sempat upload di blog.

Jalan-jalan di Candi Borobudur ini terjadi sekitar tujuh bulan yang lalu. Bareng istri yang sedang hamil besar, mengunjunginya dari kontrakan yang ada di Bantul, Jogja. Lumayan jauh, dengan mengendarai Mio sekitar satu jam setengah. Bahkan sempat tersesat, pasar Borobodur seharuse belok, kita tetap saja terus.

Acara liburan ini kita rancang layaknya piknik. Sengaja membawa bekal, pagi itu istri masak sayur terong dan ikan lele. Pagi-pagi sudah siap dengan segala barang bawaannya. Masalah pun datang ketika kunci kamar kontrakan yang sudah rewel itu rusak. Alhasil kita harus nunggu yang punya kontrakan memperbaikinya. Sehingga berangkatnya jadi agak siangan.

Sampai di candi yang ada di Magelang, Jawa Tengah sudah terik, sekitar jam sepuluh. Borobudur sudah sangat ramai, apalagi hari itu hari Minggu. Kita berdua beli topi, untuk melindungi panas matahari. Antrian tiket pun juga panjang, dengan Rp30.000/orang akhirnya kita bisa masuk, inilah beberapa fotonya:






 



Eh tapi, rencana bisa makan-makan di atas rumput tak terlaksana, makanan yang ada di tas ditahan di pintu masuk, dititipkan tidak boleh di bawa masuk. Sepertinya ini berbeda dengan Candi Prambanan yang makanan bisa lolos. Lebih enak jika kita sudah sampai di Candi Borobudur pagi-pagi sekali, tidak terlalu ramai, fotonya bisa jadi lebih bagus :D

Wisata Kuliner dan Edukasi di Kampung Coklat

Wisata Kuliner dan Edukasi di Kampung Coklat

Hari Minggu (12/10) bersama dua keponakan mencoba berkunjung ke salah satu tempat wisata yang lagi naik daun di Blitar, Kampung Coklat. Lokasinya berada di desa Plosorejo, Kademangan, sekitar 20 menit perjalanan dengan kendaraan bermotor dari pusat Kota Blitar. Kalau dari rumah tidaklah terlalu jauh, cukup 10 menit sudah tiba di Kampung Coklat.

Tempat wisata ini memiliki daya tarik berupa kebun kakau, yaitu bahan utama coklat. Mungkin belum genap setahun, Kampung Coklat menjadi satu dari sekian tempat wisata di Blitar yang ramai pengunjung, khususnya waktu hari libur. Untuk masuk ke Kampung Coklat, pengunjung tidak dikenakan biaya.Inilah beberapa foto hasil kunjungan ke Kampung Coklat.

Wisata Kuliner dan Edukasi di Kampung Coklat

Wisata Kuliner dan Edukasi di Kampung Coklat

Wisata Kuliner dan Edukasi di Kampung Coklat

Wisata Kuliner dan Edukasi di Kampung Coklat

Wisata Kuliner dan Edukasi di Kampung Coklat

Wisata Kuliner dan Edukasi di Kampung Coklat

Tempat wisata yang memilih tema wisata edukasi ini, menurut saya lebih cocok disebut juga tempat wisata kuliner. Kampung Coklat seperti sebuah tempat makan yang menjadikan kebon kakau sebagai tempatnya. Hamparan pohon kakau yang rimbun dan berbuah menjadi peneduh di antara meja-meja dan kursi.

Untuk mengikuti atau melihat proses produksi coklat, pengunjung dikenakan biaya. Kebanyakan pengunjung hanya menikmati kuliner yang disajikan di Kampung Coklat. Menu makanan layaknya tempat makan pada umumnya. Yang khas terbuat dari coklat adalah minumannya berupa jus coklat atau kopi coklat. Menikmati kuliner di bawah pohon-pohon kakau yang rindang sambil bercengkrama dengan teman atau keluarga.

Kampung Coklat didirikan oleh masyarkat sekitar. Dengan keramaian dan perputaran uang tentu bisa lebih mensejahaterakan masyarakat sekitar. Pelajar lain yang dapat diambil selain untuk bisa menjadi diminati harus memiliki keunikan. Ternyata untuk menumbuhkan pohon kakau sampai berbuah seperti di atas dibutuhkan waktu kurang lebih 12 tahun. Jadi butuh proses panjang untuk sukses.

Kelahiran Putri Pertama, Ghaziya Afra Tsauqifa


Tahun ini bertambah anggota keluarga kami, tepatnya pada tangga 05-06-2014. Menjelang maghrib di sebuah rumah sakit, istri tercinta melahirkan seorang bayi perempuan secara normal dengan panjang 50 cm dan berat 3 kg. Kebahagian tidak disembunyikan, setelah sembilan bulan menanti kelahiran anak ini, yang selalu kami rawat dan doakan.

Kelahiran ini juga pengalaman pertama bagi saya, sejak pagi sudah merasakan tanda-tanda akan terjadi proses persalinan. Niat awalnya ingin melahirkan di bidan dekat rumah saja, tetapi sejak awal sudah menyarankan untuk melahirkan di rumah sakit karena tahu kami memiliki ASKES (BPJS).

Saat siang untuk kembali memeriksakan, bidan itu tetap menyarakan agar memanfaatkan BPJS-nya dengan melahirkan di rumah sakit. Saya berpikir, ini terjadi karena kami tidak pernah periksa kehamilan di tempat bidan itu. Karena kami memang lebih sering memeriksakan kehamilan di puskesmas, dan itupun berpindah-pindah, mulai di Blitar sampai Jogja.

Siang, sekitar jam 2 dengan status bukaan 5 yang diperiksa bidan. Dengan sepeda motor kami berdua menuju rumah sakit. Kondisi istri saat itu masih kuat untuk melakukan aktivitas. Sebagai orang yang baru pertama kali akan menemani istri, saya tidak tahu kalau bukaan 5 itu kondisi yang sudah harus mendapatkan perawatan. Tidak seharusnya naik motor dengan jarak yang lumayan jauh, tentu akan berbahaya jika terjadi sesuatu.

Menemani dari jam 2 sampai benar-benar proses persalinan menguras emosi. Permintaan untuk dipijit terus terdengarkan, saya pun turuti. Sampai akhirnya, saya minta bidan yang jaga untuk memeriksa kembali dan diputuskan untuk dilakukan proses persalinan. Saya hanya bisa memegang tangan, menyemagatinya, memintanya untuk tetap rileks.

Tangis saya pecah bersamaa dengan tangis sang bayi, tidak bisa ditahan kebahagian dan keharuan. Dari menemani inilah saya tahu, bagaimana berat perjuangan ibu, sejak hamil sampai proses persalinan secara normal ini. Menahan sakit, dan berusaha untuk melahirkan anaknya dengan sekuat tenaga.

Lengkap kebahagian kelurga kami, setelah setahun yang lalu mengucap ijab qobul. Anak perempuan itu kami beri nama Ghaziya Afra Tsauqifa. Diambil dari beberapa nama sahabat nabi hasil membaca istri dari buku 35 Sirah Shahabiyah. Semoga putri yang pertama kami ini tumbuh menjadi anak sholehah, berbakti pada orang tua, berguna bagi bangsa dan agama. Amin...