Ke Taman Sari Melihat Kolam Pemandian Sultan


Sebelumnya, sudah saya tulis tentang tempat wisata di Jogja, Taman Sari tetapi belum sampai ke kolam pemandian yang di Wikipedia disebut dengan Umbul Pasiraman. Setelah hanya sampai di masjid bawah tanah belum ke kolam pemandian bagi Sultan, istri, serta para putri-putrinya itu, akhirnya saya bersama istri dan si kecil kembali ke Taman Sari untuk menuntaskan rasa penasaran, berdasarkan foto yang banyak ditemukan tempat ini terlihat indah.

Bisa juga dikatakan, ini adalah kunjungan kedua ke Taman Sari. Sore itu setelah selesai makan Sup Ayam Pak Min, kami bertanya ke tukang parkir jalan terdekat menuju Taman Sari yang kolamnya. Langsung saja motor matic biru yang setia menemani kami di Jogja itu kami pacu menuju tempat yang sebenarnya tak terlalu asing lagi. Sampai di tempat, ternyata sudah tutup, Taman Sari untuk yang kolam pemandian sudah ditutup sejak pukul 3 sore.

Akhirnya, kami putuskan untuk kembali lagi ke Taman Sari keesokan harinya. Untuk menuju ke kolam pemandian Taman Sari, bisa lewat utara atau timur. Tetapi, lebih dekat jika lewat timur, alun-alun kidul ke barat. Sampai di kolam pemandian Taman Sari hari itu masih sepi, karena sampai di sini masih pagi. Memang untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata terbuka seperti ini lebih enak jika pagi, masih sepi, belum panas, dan bagus untuk berfoto.

Pintu masuk ke kolam pemandian Taman Sari
Sebelum masuk harus beli tiket dulu, jangan khawatir, murah kok, harganya tak lebih dari Rp10 ribu. Berdasarkan apa yang saya dengar dahulu kala waktu kolam pemandian ini masih dipakai Sultan, ini adalah jalan keluar. Sekarang gerbang sebelah timur ini menjadi pintu masuk ke kolam pemandian Taman Sari. Setelah melalui gerbang ini, langsung dijumpai dua kolam yang yang dibatasi sebuah jalan seperti dermaga.

Bangunan untuk berganti pakaian, depannya kolom untuk putri-putrinya.
Kolam untuk istri, selatannya menara dan bangunan tempat istirahat dan ganti pakaian Sultan.
Dari menara, dari sinilah Sultan memilih salah satu untuk diajak ke kolam paling selatan.
Seperti yang saya baca dari Wikipedia, bangunan yang paling utara dahulu adalah tempat istirahat dan berganti pakaian untuk para puteri dan istri (selir) Sultan. Kolam yang di selatannya disebut dengan nama "Umbul Muncar", kolam untuk putri-putri Sultan. Lalu kolam yang ada di selatannya lagi disebut dengan "Blumbang Kuras", kolam untuk para istri.

Umbul Binangun
Di selatan Blumbang Kuras terdapat bangunan dengan menara di bagian tengahnya. Konon dari menara ini Sultan akan melihat istri-istrinya dan puterinya yang sedang mandi, kemudian Sultan memilih salah satu istri yang dianggapnya paling menarik untuk dipanggil dan diajak mandi di kolam yang ada di selatan bangunan menara yang disebut dengan "Umbul Binangun".

Ketiga kolam Taman Sari dihiasi dengan mata air yang berbentuk jamur dan sekelilingnya terdapat pot bunga raksasa. Tembok krem gagah dan tinggi mengitarinya kolam pemandian Taman Sari. Pada zamannya, selain Sultan, hanyalah para perempuan yang diizinkan untuk masuk ke kompleks ini, selain itu dilarang keras oleh Sultan untuk masuk ke Taman Sari.

Kolam dikelilingi dengan pot bunga.
Kolam untuk khusu sultan dan salah satu permaisurinya.
Tak berhenti di sini, masih banyak tempat-tempat bersejarah di Taman Sari. Keluar dari kolam pemandian Taman Sari ada halaman berbentuk segi delapan dan ada beberapa pintu yang menghubungkannya dengan bangunan lain di Taman Sari. Cukup sampai di sini dulu cerita jalan-jalannya di Taman Sari, apakah kamu juga pernah ke sini?

Taman Sari, Tempat Wisata Murah di Jogja

Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama.
Liburan akhir Desember 2014 kemarin saya bersama keluarga kecil pergi ke Taman Sari, wisata murah meriah di Jogja. Baru hari ini (03/02/15) saya menuliskannya di blog ini, saat keinginan ngeblog muncul lagi. Menulis atau ngepost blog apa yang ingin diarsipkan, hal-hal yang personal. Selain itu, post ini juga untuk mengobati kerinduan kepada Afra.

Kembali ke Taman Sari, lokasinya yang di perkotaan dekat dengan Keraton, menjadi salah satu pilihan tempat liburan. Apalagi tahun ini sudah bertambah anggota keluarga kami, dengan hadirnya si kecil. Akhir Desember, tanggal tua cocok berwisata ke tempat-tempat wisata yang murah juga, tetapi tetap menyenangkan dan menambah wawasan pengetahuan.

Mengenalkan warisan budaya sejak dini :D
Sebetulnya tidak terlalu banyak referensi yang kami (saya dan istri) baca tentang Taman Sari. Saat itu kami hanya ingin jalan-jalan tetapi tidak terlalu banyak uang yang akan dikeluarkan nantinya. Hanya berbekal informasi seadanya dari hanya salah satu laman di internet, kami berangkat ke pusat kota dan mencari tempat wisata yang bernama Taman Sari ini.

Sampailah kami di, Taman Sari yang masuknya dari Utara. Memang benar, sama sekali tidak membayar, hanya parkir saja. Kami menyusuri bangunan yang terlihat tua yang tinggi dan terkesan tak terawat ini. Saya sedikit kaget, bangunan cagar alam ini ada di tengah perumahan-perumahan penduduk, bahkan sangat dekat.

Di sekelilingnya pemukiman padat penduduk
Setelah saya baca dari Wikipedia, ternyata dulu itu adalah danau buatan yang disebut segaran tempat bersampan sultan dan keluarga kerajaan serta untuk memelihara berbagai jenis ikan. Saai ini tempat itu telah menjadi pemukiman padat yang dikenal dengan kampung Taman. Konon dari Taman Sari ada jalan tembus ke Pantai Selatan atau Parangtritis.

Taman Sari juga ramai wisatawan
Kami memasuki lorong menuju sebuah tempat, yang sempat saya dengar dari pemandu itu adalah masjid. Bangunan melingkar dengan bertingkat dengan tengah-tengahnya ada tangga berundah sebanyak lima. Jumlah lima ini katanya mewakili jumlah rukun islam yang ada lima. Ini salah satu titik yang biasanya orang banyak berfoto, sebagai bukti pernah ke Taman Sari.

Hari itu, siang mulai terik dengan anak kecil tidak kami lanjutkan menyesuri Taman Sari yang lumayan luas ini. Kami keluarkan dengan melewati lorong yang berbeda saat masuk, dan ternyata itu adalah pintu masuk Taman Sari yang dekat dengan Alon-Alon Selatan. Padahal motor ada di pintu masuk utara, akhirnya kami harus kembali lagi.

Belum menemukan Umbul Pasiraman, harus ke sini lagi (foto: Wikipedia)
Sebenarnya satu tempat yang kami lewatkan, dan itu semacam ikon Taman Sari, yaitu Umbul Pasiraman. Masih dari Wikipedia, Umbul Pasiraman adalah kolam pemandian bagi Sultan, para istri beliau, serta para putri-putri beliau. Di sini ada tiga kolam yang dihiasi dengan mata air yang berbentuk jamur dan dikelilingi pot bunga raksasa.

Mereka Menyebut Ini Jalan-jalan ke Tempura

Setelah guru olahraga pindah tugas, tidak ada lagi yang menemani mereka saat jam olahraga. Sehari sebelumnya, sempat saya menanyakan di sekitar sekolah, adakah tempat menarik untuk dikunjungi. Diantara mereka berpikir, ada yang diam tak tahu dan ada pula yang merekomendasikan sebuah tempat yang biasa orang-orang sekitar sembut dengan "tempura".

Saya sendiri juga penasaran, apa itu Tempura? Yang saya bayangkan berdasarkan apa yang dijelaskan oleh seorang anak, tempura adalah sebuah sungai dengan air yang jernih dan biru. Ini mengingatkan akan Rambut Monte sebuah telaga di Blitar. Saya bayangkan Tempura juga hampir sama seperti itu, sebuah genangan air yang luas dengan air yang biru.

Satu kelas akhirnya sepakat, jam olahraga besok akan diisi dengan jalan-jalan ke Tempura. Hampir semuanya belum pernah ke tempat ini, hanya tak lebih 3 anak dari 17 anak yang pernah menginjakan kakinya di Tempura. Rasa penasaran mereka akan Tempura menjadi pemnyemangat, walau sudah dikatakan jika tempat ini tidaklah dekat.

Pagi itu saya juga berangkat lebih pagi ingin menepati janji dan rencana yang sudah kami sepakati. Dari 17 anak, 4 anak tidak ikut karena baru sakit dan tahu Tempura cukup jauh dari sekolahan. Dengan membawa bekal seadanya yang dibelinya di warung dekat sekolah, kami berangkat dengan semangat menuju Tempura.


Sekolah kami ada di daerah pegunungan, anak-anak sudah terbiasa dengan jalan kaki bahkan untuk jarak jauh. Dimulai dari menyusuri jalan kampung lalu mulailah masuk yang saya sebut hutan jati dan perkebunan jagung. Khas jalan pegunungan yang naik turun dan kadang tak rata harus kami lewati.

Kesunyian hutan dan perkebunan pecah dengan canda tawa dan ketakjuban akan alam bagi mereka yang jarang ke luar rumah menemani perjalanan kami. Sambil sesekali berhenti untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan alam. Hamparan jagung dan pepohonan yang hijau benar-benar mereka lihat, bukan dari foto atau acara travelling di televisi.





Jika Tempura itu jauh mulai terbukti, sesekali saya bertanya pada Anam, si penunjuk jalan. Apakah masih jauh? Dia menjawah sudah dekat, dengan sambil terus berjalan. Kalimat-kalimat seperti "Surga tersembunyi" dan "Semua rasa lelah akan terbayarkan setelah sampai" yang keluar dari mulut anak ini, membuat kami tambah penasaran dan tak sabar ingin melihatnya.

Setelah berjalan kaki hampir satu jam setengah, akhirnya mulai terlihat aliran sungai itu. Mereka bergegas berlari, menuruni gunung dan menerobos rerimbunan kebun jagung. Teriak-teriakan, "Yang tidak ikut menyesal" bersahutan dengan suara gemercik air sungai. Rasa lelah sudah tak dirasa, yang mereka inginkan adalah berendam di sungai. Keinginan mereka pun saya iyakan, karena sudah jauh-jauh ke sini sayang kalau tidak dipuas-puaskan.

Tak disia-siakan, mereka segera melepas baju dan menceburkan diri ke sungai. Mereka terlihat senang, jarang-jarang bisa bermain air sepuasnya. Karena memang di daerah mereka yang pegunungan air adalah barang mahal. Tempura ternyata hanya sebuah sungai dalam yang tidak begitu luas. Itu mematahkan bayangan saya akan Tempura yang saya gambarkan sebuah sungai yang luas dengan air yang tenang.



Setelah sekitar satu jam bermain air, panas matahari mulai terik, saya ajak mereka pulang. Walau ingin lebih lama saya paksa mereka beranjak naik dan berpakaian kembali. Karena jalan pulang sama seperti jalan berangkat, jalannya jauh. Ternyata kami tak cukup bekal, rasa haus harus sedikit ditahan sampai ada warung atau sampai ke sekolah lagi. Walau lelah, kami senang.

Tak hanya untuk olahraga, jalan-jalan ini ada pelajaran mereka rasakan langsung. Tentang kebersamaan bersama teman, saat ada yang merasa lelah mereka juga beristirahat bersama. Selalu waspada, jangan sampai ada teman yang hilang atau tertinggal. Yang terpenting, mereka tahu ciptaan Tuhan dan alam harus dijaga agar hutan dan sungai bisa dinikmati kembali.