31 Januari 2015

Mereka Menyebut Ini Jalan-jalan ke Tempura

Setelah guru olahraga pindah tugas, tidak ada lagi yang menemani mereka saat jam olahraga. Sehari sebelumnya, sempat saya menanyakan di sekitar sekolah, adakah tempat menarik untuk dikunjungi. Diantara mereka berpikir, ada yang diam tak tahu dan ada pula yang merekomendasikan sebuah tempat yang biasa orang-orang sekitar sembut dengan "tempura".

Saya sendiri juga penasaran, apa itu Tempura? Yang saya bayangkan berdasarkan apa yang dijelaskan oleh seorang anak, tempura adalah sebuah sungai dengan air yang jernih dan biru. Ini mengingatkan akan Rambut Monte sebuah telaga di Blitar. Saya bayangkan Tempura juga hampir sama seperti itu, sebuah genangan air yang luas dengan air yang biru.

Satu kelas akhirnya sepakat, jam olahraga besok akan diisi dengan jalan-jalan ke Tempura. Hampir semuanya belum pernah ke tempat ini, hanya tak lebih 3 anak dari 17 anak yang pernah menginjakan kakinya di Tempura. Rasa penasaran mereka akan Tempura menjadi pemnyemangat, walau sudah dikatakan jika tempat ini tidaklah dekat.

Pagi itu saya juga berangkat lebih pagi ingin menepati janji dan rencana yang sudah kami sepakati. Dari 17 anak, 4 anak tidak ikut karena baru sakit dan tahu Tempura cukup jauh dari sekolahan. Dengan membawa bekal seadanya yang dibelinya di warung dekat sekolah, kami berangkat dengan semangat menuju Tempura.


Sekolah kami ada di daerah pegunungan, anak-anak sudah terbiasa dengan jalan kaki bahkan untuk jarak jauh. Dimulai dari menyusuri jalan kampung lalu mulailah masuk yang saya sebut hutan jati dan perkebunan jagung. Khas jalan pegunungan yang naik turun dan kadang tak rata harus kami lewati.

Kesunyian hutan dan perkebunan pecah dengan canda tawa dan ketakjuban akan alam bagi mereka yang jarang ke luar rumah menemani perjalanan kami. Sambil sesekali berhenti untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan alam. Hamparan jagung dan pepohonan yang hijau benar-benar mereka lihat, bukan dari foto atau acara travelling di televisi.





Jika Tempura itu jauh mulai terbukti, sesekali saya bertanya pada Anam, si penunjuk jalan. Apakah masih jauh? Dia menjawah sudah dekat, dengan sambil terus berjalan. Kalimat-kalimat seperti "Surga tersembunyi" dan "Semua rasa lelah akan terbayarkan setelah sampai" yang keluar dari mulut anak ini, membuat kami tambah penasaran dan tak sabar ingin melihatnya.

Setelah berjalan kaki hampir satu jam setengah, akhirnya mulai terlihat aliran sungai itu. Mereka bergegas berlari, menuruni gunung dan menerobos rerimbunan kebun jagung. Teriak-teriakan, "Yang tidak ikut menyesal" bersahutan dengan suara gemercik air sungai. Rasa lelah sudah tak dirasa, yang mereka inginkan adalah berendam di sungai. Keinginan mereka pun saya iyakan, karena sudah jauh-jauh ke sini sayang kalau tidak dipuas-puaskan.

Tak disia-siakan, mereka segera melepas baju dan menceburkan diri ke sungai. Mereka terlihat senang, jarang-jarang bisa bermain air sepuasnya. Karena memang di daerah mereka yang pegunungan air adalah barang mahal. Tempura ternyata hanya sebuah sungai dalam yang tidak begitu luas. Itu mematahkan bayangan saya akan Tempura yang saya gambarkan sebuah sungai yang luas dengan air yang tenang.



Setelah sekitar satu jam bermain air, panas matahari mulai terik, saya ajak mereka pulang. Walau ingin lebih lama saya paksa mereka beranjak naik dan berpakaian kembali. Karena jalan pulang sama seperti jalan berangkat, jalannya jauh. Ternyata kami tak cukup bekal, rasa haus harus sedikit ditahan sampai ada warung atau sampai ke sekolah lagi. Walau lelah, kami senang.

Tak hanya untuk olahraga, jalan-jalan ini ada pelajaran mereka rasakan langsung. Tentang kebersamaan bersama teman, saat ada yang merasa lelah mereka juga beristirahat bersama. Selalu waspada, jangan sampai ada teman yang hilang atau tertinggal. Yang terpenting, mereka tahu ciptaan Tuhan dan alam harus dijaga agar hutan dan sungai bisa dinikmati kembali.